PEBISNIS KARGO PERLU MENGOPTIMALKAN APLIKASI TEKNOLOGI

PERLUNYA APLIKASI TEKNOLOGI BAGI PEBISNIS KARGO

Tahun 2019 agaknya bisa menjadi  tahun terberat bagi bisnis kargo di  Indonesia. Betapa tidak, baru memasuki semester ke-1 tahun 2019 saja, beberapa maskapaI penerbangan sudah menaikan sewa kargonya yang cukup tinggi hingga mencapai 350%.

Dari catatan yang diberikan oleh ASPERINDO ( asosiasi perusahaan jasa pengiriman ekpres Indonesia ) selama bulan  Januari 2019 saja maskapai penerbangan Garuda Indonesia telah menaikan tariff  hingga 2x lipat. Seperti terlihat dari tabel dibawah ini :

Besaran Kenaikan Tarif Kargo oleh Maskapai Penerbangan

MASKAPAI PERIODE KENAIKAN TARIF AKUMULASI KENAIKAN
Garuda Indonesia 1 Juni 2018 – 14 Jan 2019 6 Kali 74% – 352%
Lion Air 9 Okt 2018 – 7 Jan 2019 4 Kali 22% – 176%
Sriwijaya Air 16 Nov 2018 – 7 Jan 2019 2 Kali 19% – 225%

Sumber : Asperindo

Besarnya tingkat kenaikan yang terjadi pada bisnis kargo, pada akhirnya memang berdampak langsung terhadap kelangsungan bisnis kargo dan logistik yang ada di Indonesia.  Kondisi itulah yang mesti segera diantisipasi oleh semua pihak. Tidak saja pebisnis yang tergabung dalam bisnis kargo dan logistic, tapi juga pemerintah yang berwenang membuat dan memberikan satu kebijakan untuk penyelamatan bisnis kargo dan logistik di Indonesia.

Jika kondisi seperti itu tidak segera di atasi dan di carikan solusi terbaiknya. Maka  kondisi diatas bisa berimbas langsung dengan pelaku yang ada di bisnis tersebut. Karena hingga saat ini saja, beberapa pelaku bisnis sudah mulai ada yang terkena imbasnya. banyak pengusaha, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi korban, lantaran pengiriman produk ke konsumen memanfaatkan jasa angkutan udara.

 

SOLUSI BAGI PEBISNIS KARGO

 

Ada beberapa cara yang bisa di lakukan untuk mengatasi masalah yang saat ini sedang menimpa pebisnis kargo dan logistic di Indonesia. Seperti yang disampaikan oleh beberapa pelaku bisnis :  Setidaknya ada 2 asosiasi  yang sudah mencoba mencari solusi terbaik untuk mengatasi masalah diatas. Ambil contoh ASPERINDO seperti yang disampaikan oleh salah satu pengurusnya  bahwa anggota ASPERINDO rata-rata sudah menaikan biaya pengiriman paket yang melalui jalur udara sebesar 20%.  Bukan  hanya menaikan tariff yang sebesar 20%, solusi lain yang bisa dilakukan adalah dengan mengalihkan pengiriman yang semula menggunakan jalur  udara diubah menggunakan jalur darat. Kecuali untuk pengiriman yang lokasinya cukup jauh masih tetap mengguakan jalur udara.

asperindo

Tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh  Zaldy Ilham Masita, Ketua Asosiasi Logistik Indonesia. Kondisi  naiknya  tariff kargo udara jelas berdampak langsung pada pebisnis yang saat ini memiliki konsep bisnis dengan menggunakan sistem e-commerce.  Hal itu pada akhirnya menjadi dasar kenapa saat ini dan kedepan untuk pebisnis kargo dan logistik perlu melakukan  beberapa terobosan untuk meningkatkan kinerja perusahaan agar menjadi lebih baik.

Selain terobosan yang berbentuk standar seperti menaikan tarif pengiriman yang sebesar 15-20% per Januari 2019.  Pebisnispun perlu melakukan beberapa hal yang bersifat khusus seperti misalnya mulai mengaplikasikan teknologi. Ada beberapa model aplikasi  teknologi yang mungkin bisa mulai di terapkan bagi pebisnis kargo dan logistic agar masalah yang saat ini terjadi bisa segera dicarikan  jalan keluarnya agar hasilnya bisa lebih baik.

Ambil contoh misalnya;  tingginya biasa sewa kargo di beberapa maskapai penerbangan perlu di antisipasi dengan peningkatan pemasukan atau omzet penjualan. Sehingga dengan adanya peningkatan omzet, maka kenaikan sewa kargo bisa teratasi dengan baik. Sekalipun memang perlu dicarikan satu formula tersendiri tergantung perusahaan dan bisnisnya masing-masing. Tapi paling tidak, dengan adanya peningkatan omzet bisa menjadi terobosan yang  baik bagi kestabilan  kinerja perusahaan. Kedua masalah maintenance konsumen, hal ini perlu juga menjadi satu terobosan yang mesti menjadi perhatian bagi para pebisnis kargo dan logistic. Karena dengan semakin terkondisinya masalah service kepada pelanggan. Hal itu juga akan bisa meningkatkan kinerja perusahaan dalam pengelolaan konsumen dan pelanggan menjadi lebih baik.

Baca juga : Bisnis Ekspedisi Peluang, Tantangan dan Solusinya di 2019

 

PEMERINTAH  PERLU IKUT CAMPUR DALAM MASALAH BISNIS KARGO &  LOGISTIK

 

Setiap bisnis memang tidak bisa di lepaskan dari peran aktif pemerintah. Hal itu terjadi mengingat peran pemerintah bisa menjadi mediator dari keterlibatan dari beberapa pihak yang terkait dari sebuah bisnis.

Seperti juga dalam bisnis kargo dan logistik.  Masalah yang terjadi saat ini memang menjadi satu  hal yang mesti dicarikan solusi dari pihak pemerintah. Karena jika hal ini di biarkan berlalu, maka dikuatirkan akan semakin banyak memakan korban dari pelaku bisnis di sektor tersebut.

Darmin Nasution, Menteri Koordinasi Bidang Perekonomian  mengatakan, setidaknya ada 5 cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan percepatan pertumbuhan ekonomi terutama yang ada di desa-desa. Dimana terkait dengan masalah itu adalah peran sektor logistik menjadi salah satu hal yang mesti dilakukan untuk meningkatkan percepatan pertumbuhan ekonomi tersebut.

Dimana kelima yang bersifat deregulasi tersebut adalah sebagai berikut :

  • Pengembangan Usaha Jasa Penyelenggaraan Pos Komersial
  • Penyatuan Pembayaran Jasa – Jasa Kepelabuhan Secara Elektronik ( single billing ).
  • Sinergi BUMN membangun agregor / konsolidator ekspor produk UKM, geographical indications dan ekonomi kreatif melalui BUMN.
  • Sistem Pelayanan Terpadu Pelabuhan Secara Elektonik
  • Penggunaan Rupiah untuk Transaksi Kegiatan Transportasi.

Dari kelima deregulasi yang telah di tetapkan pemerintah, pelaku swasta memang bisa ikut andil dalam mempercepat akselesari 5 program tersebut.  Dimana salah satu sektor swasta yang bisa terlibat dalam  ke-5 program itu adalah pebisnis yang mengembangkan bisnisnya dalam sektor aplikasi teknologi. Secara khusus deregulasi point (4) bisa menjadi satu jalan terbaik untuk perusahaan swasta yang bergerak dalam sektor aplikasi teknologi agar bisa secara aktif bersinergi baik dengan pemerintah ataupun dengan pebisnis kargo dan logistic untuk menunjang masalah diatas. Ambil contoh misalnya dalam melakukan koordinasi dari sistem pelayanan terpadu pelabuhan secara elektronik.  Dari sisi sistem dan aplikasi ini, sektor swasta bisa mengaplikasikan sistem dan aplikasi teknologi yang dimilikinya agar bisa secara aktif memaintenance pelanggan yang ada untuk meningkatkan kinerja pemasaran dari setiap pelanggan yang ada.

Baca juga : 6 TREN BISNIS YANG AKAN MEMPENGARUHI BISNIS RITEL DI INDONESIA

0 Shares
In this article

Join the Conversation

5 × one =