INDUSTRI FOOD & BEVERAGE PALING SIAP MEMASUKI INDUSTRI 4.0

industri food & beverage

POTENSI BISNIS F&B INDONESIA MENCAPAI ANGKA TERTINGGI Rp 844,35 TRILIUN

Jika ditanya sektor bisnis apa yang saat ini siap menghadapi Era Industri 4.0. Mungkin jawabannya adalah bisnis di sektor Food & Beverages (F&B). Kenapa, karena sektor inilah yang telah memanfaatkan teknologi guna menunjang perkembangan bisnisnya. Itulah yang membuat  Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian menyatakan bahwa sektor inilah yang mampu bersaing dengan pelaku bisnis di pasar internasional.

Sekadar menjelaskan bagaimana sektor ini mampu bersaing dalam tataran bisnis internasional.  Secara bisnis sektor F&B setiap tahunnya menunjukkan tren peningkatan yang cukup signifikan. Dari tahun 2016 angkanya masih berada di level  ( 2016 : US$ 10,43 miliar ) meningkat 10,26%  menjadi (US$ 11,5 miliar : 2017). Sementara potensi bisnisnya sendiri di tahun 2018 lalu angkanya berada di level Rp844,35 triliun, dengan komposisi terbanyak berasal dari pemain independen yang sebesar 90%.

Terjadinya peningkatan dalam bisnis F&B, memang  tidak saja ada di wilayah Jabodetabek semata. Tetapi perkembangan itu juga terjadi di beberapa lokasi seperti misalnya Surabaya. Jika pertumbuhan per-tahun secara nasional saja sektor ini mampu meningkat minimal 10,26% dari tahun 2016-2017. Justru di Surabaya untuk tahun 2018 saja ada kenaikan sebesar 20%. Sungguh sebuah potensi bisnis yang cukup menjanjikan  ketika kita tahu bahwa sektor tersebut ternyata memang memberikan satu peluang bisnis yang cukup menjanjikan.

Ada beberapa hal yang membuat bisnis F&B tidak saja di apresiasi oleh pelaku bisnis dalam negeri. Tetapi pelaku bisnis asing pun cukup antusias dalam pengembangan bisnis F&B di Indonesia. Dimana beberapa hal yang bisa menjadi acuan bagi pebisnis dalam pengembangan bisnis F&B adalah :

  • Pertama jumlah penduduk Indonesia yang di tahun 2019 sudah mencapai 269 juta jiwa.
  • Kedua sebagai negara berkembang maka karakter penduduknya yang bersifat consumer ( suka membelanjakan uangnya) menjadi satu dasar kenapa bisnis F&B di Indonesia makin tahun makin menunjukkan potensinya.

Dua hal tadi adalah sisi eksternal-nya  yang mendukung perkembangan bisnis F&B. Sedangkan untuk sisi internal-nya pelaku bisnis secara nyata mampu memanfaatkan Era Industri 4.0 dengan pemanfaatan teknologi yang cukup menarik. Dari mulai penerapan teknologi seperti : Artifical Intelligence (AI), Internet of  Things (IOT), Big Botics serta aplikasi 3D Printing. Ke semua hal yang terkait dengan teknologi itu pada akhirnya memang mempercepat  peningkatan produktivitas dari pelaku bisnis di sektor F&B menjadi lebih berkembang seperti saat ini.

food and beverages

Memang hingga saat ini dalam perkembangan bisnis F&B fokusnya mulai bergerak pada satu kesamaan bisnis. Dimana tren kopi lifestyle menjadi satu tren yang saat ini begitu banyak diminati oleh customer. Sedangkan untuk sektor makanan, konsep makanan ciri khas nusantara menjadi tren yang bisa menyaingi tren makanan fast food yang lebih banyak didominasi oleh franchise.

Itulah kondisi yang terjadi pada sektor bisnis F&B. Dimana peran customer menjadi salah satu hal yang perlu menjadi perhatian pebisnis agar bisa lebih diterima oleh customer. Tanpa memperhatikan apa yang saat ini sedang di apresiasi oleh customer mustahil apa yang disajikan dalam industri ini bisa berkembang sejauh dan sebesar ini.

Baca juga : Mau usaha buka toko roti atau kue? Ikuti langkah ini!

 

CRM, STRATEGI JITU DALAM MEMENANGKAN PERSAINGAN DALAM BISNIS F&B DI INDONESIA

 

Bicara soal customer, maka kita bicara bagaimana sebuah potensi bisnis di ciptakan. Dalam industri F&B seperti yang disampaikan oleh Handri Kosada, CEO Barantum.com ada beberapa hal yang pada akhirnya menjadi sebuah kekuatan ketika sektor customer menjadi perhatian dari para pelaku bisnisnya.

Oleh karena itulah, Handri Kosada, CEO Barantum.com memberikan statemen-nya, “CRM adalah salah satu cara terbaik bagi pebisnis F&B untuk bisa bersaing dalam Era Industri 4.0.” Kenapa, karena CRM (Customer Relationship Management) adalah sebuah aplikasi yang akan meningkatkan apresiasi pebisnis kepada customer-nya. Konsep Customer Satisfaction Oriented pada akhirnya menjadi kunci bagaimana CRM mampu menjawab apa yang menjadi keinginan dari para pebisnis yang memang orientasinya kepada customer seperti bisnis F&B.

Contoh menarik adalah bisnis MC Donald, awalnya kita hanya tahu MC Donald adalah salah satu  franchise sukses yang berasal dari Amerika Serikat. Dimana produk utamanya adalah Hamburger. Namun ternyata saat ini perkembangan franchise ini sudah lebih jauh. Dimana saat ini ketika kita datang ke salah satu outlet MC Donald, kita bisa mendapatkan beragam pilihan makanan dan minuman yang cukup bervariasi dan biasanya di sesuaikan dengan spesifikasi daerah yang bersangkutan.  Dari kondisi ini kita bisa melihat, jika Mc Donald hanya di arahkan untuk menjual Hamburger semata maka kecil kemungkinan akan berkembang sebesar ini. Namun karena manajemen melihat sisi lain dari kaca mata customer dan mengikutinya maka wajar jika saat ini kondisi Mc Donald menjadi sebesar seperti sekarang.

Apa yang disajikan dalam case study diatas, sejalan dengan konsep CRM yang di kemukakan oleh Handri Kosada. Bahwa untuk memaksimalkan kinerja dari bisnis F&B maka peranan CRM menjadi salah satu strategi jitu untuk memenangkan persaingan tersebut. Karena aplikasi CRM itu sendiri akan bisa menjadi divisi R&D yang ampuh guna meningkatkan apresiasi customer serta mampu menjadi alat untuk meningkatkan omzet perusahaan yang bersangkutan. Itulah kenapa, CRM dalam industri F&B bisa dijadikan sebuah strategi bisnis untuk merebut hati para customer-nya.

Sebuah bisnis yang di kembangkan berdasarkan tren yang terjadi pada masyarakat memang pada akhirnya mengandung beberapa konsekuensi. Pertama bisnis tersebut biasanya akan selalu melakukan inovasi terhadap produknya. Kedua bisnis tersebut akan memainkan banyak instrumen guna menarik minat customer agar bisa datang dan menikmati menu hidangannya. Ketika bisnis tersebut tidak akan memiliki sebuah standar baku, karena standar itu tidak bisa di lakukan mengingat ini adalah sebuah bisnis yang berdasarkan sebuah taste atau rasa.

baca juga : Teknologi Yang Membantu Restoran Anda Berkembang

TEKNOLOGI DIGITAL, MENGUBAH CARA PANDANG PEBISNIS F&B DALAM MERAIH HATI CUSTOMER

 

Jika CRM mampu dijadikan satu cara terbaik untuk memenangkan persaingan. Maka teknologi digital dalam Era Industri 4.0 di gunakan oleh pebisnis F&B untuk bisa melakukan beragam inovasi yang wajib di lakukan dalam industri tersebut.

Beberapa inovasi yang saat ini cukup menarik  dan tidak biasa jika kondisi ini dilakukan pada bisnis F&B pada masa dahulu. Terdapat 5 tren inovasi yang saat ini sedang  melanda pelaku bisnis F&B dalam Era Industri 4.0

Dimana ke-5 tren tersebut diantaranya adalah :

  1. Menu makanan yang lebih sehat : Kepedulian customer terhadap lifestyle  hidup sehat, pada akhirnya juga mempengaruhi standar dan variasi menu makanan yang disajikan dalam bisnis F&B.
  2. Produk yang Instagrammable : Ini yang cukup unik, jika biasanya orang akan tertarik untuk datang dan berkunjung ke lokasi seperti café atau restaurant yang konsep desain-nya menarik sebagai objek photografi. Tapi yang terjadi saat ini adalah justru menu makanannya sendiri yang sengaja di tampilkan cukup  unik dan menarik. Perkara rasa mungkin bukan sebagai prioritas utama, tetapi soal tampilan bentuk dan modifikasi konsep penyajian  menjadi tren saat ini dalam penyajian sebuah hidangan.
  3. Pemesanan dengan table menu : tren ini semakin marak diaplikasikan pada beberapa lokasi tempat makan. Konsep customer experience menjadi tujuan pengelola bisnis F&B agar customer-nya merasa mendapatkan satu experience yang berbeda dibanding lokasi-lokasi lain yang ada.
  4. Aplikasi kasir berbasis Cloud : konsep pengelolaan tempat makan yang technology oriented pada akhirnya menjadi  cara memaksimalkan SDM yang ada  guna meningkatkan omzet penjualan sesuai dengan apa yang diharapkan. Jika CRM digunakan untuk memaksimalkan apresiasi customer terhadap service yang diberikan. Sedang pengelolaan manajemen keuangan-pun dengan menggunakan aplikasi berbasis cloud yang akan mengefektifkan kerja sang kasir.
  5. E Commerce dan Marketplace : tidak bisa di pungkiri dengan semakin berkembangnya transportasi online, pada akhirnya semakin membuka peluang bisnis-bisnis baru yang terintegrasi dengan teknologi. Sama seperti bisnis F&B, saat ini semakin banyak pelaku industri F&B yang juga membuka toko online / situs  e-commerce di samping mereka sendiri tetap memiliki outlet / tempat makannya yang berlokasi di suatu tempat.

Di samping keuntungan dan kelebihan yang diberikan oleh media seperti teknologi digital. Namun di balik itu ada juga kelemahan dan kendala yang mesti di hadapi pelaku bisnis F&B  terkait konsekuensi bisnis di Era Industri 4.0  Tercatat  7 kendala yang akan membuat pebisnis F&B mesti mengantisipasinya :

  1. Tampilan menu  hidangan yang  menarik
  2. Layanan customer yang unik dan menarik/ eksperimental
  3. Nilai jual produk yang unik
  4. Manajemen & operasional
  5. Strategi Pemasaran  yang teruji
  6. Keterkaitan dengan masalah financial
  7. Kesalahan jenis kemasan.

Indonesia, negara dengan penduduk lebih dari 250 juta orang, adalah pasar yang menarik untuk produsen makanan dan minuman, terutama karena negara ini mengalami pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan karenanya jumlah penduduk kelas menengah meningkat cepat dan mengkonsumsi semakin banyak produk. Innovasi juga belum berhenti sampai disini, bagi mereka yang mampun mengadopsi innovasi dan teknologi dalam bisnisnya akan lebih cepat berlari meninggalkan pesaing lainnya dan memasuki kompetisi baru dimana isinya adalah mereka yang dapat mengetahui kebutuhan pelanggannya.

baca juga : CRM Untuk Bisnis Franchise Indonesia

In this article

Join the Conversation

twenty − eight =