PEMERINTAH DORONG PERBANKAN NASIONAL, TINGKATKAN KREDIT SEKTOR UMKM

PERBANKAN NASIONAL TINGKATKAN POTENSI KREDIT KE SEKTOR UMKM

Karakteristik bisnis yang menarik, dan sudah terbukti tahan terhadap krisis membuat Pemerintah mendorong industri perbankan agar bisa meningkatkan persentase kucuran kredit nya kepada pebisnis UMKM. Tidak heran dengan anjuran pemerintah tersebut menurut data yang di rilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per-Maret 2019 besaran kredit UMKM dari Bank umum sudah mencapai 18,5% dari total kredit secara keseluruhan.

 

kondisii umkm
Sumber : media informasi Kinerja Perusahaan Indonesia (KPI).

Harapan pemerintah yang dengan tegas mendukung peningkatan kredit oleh industri perbankan kepada sektor UMKM itu memang bukan tanpa alasan yang kuat. Hal itu bisa terjadi karena sektor bisnis UMKM sejak beberapa tahun lalu telah terbukti tahan terhadap dampak dari krisis moneter. Ambil contoh dari mulai krisis moneter 1997/1998 ( krisis paling parah ), 2008 ( krisis subprime mortgage yang terjadi di Amerika Serikat dan membawa dampak ke beberapa negara ) serta di tahun 2013( pada saat kondisi keuangan global terjadi penurunan / melemah ). Maka pada saat itu banyak perusahaan besar justru mengalami kendala bahkan ada yang kolaps. Namun berbeda dengan kondisi yang  terjadi pada pebisnis UMKM. Mereka mampu bertahan dari gempuran krisis moneter yang terjadi.

Kondisi diatas menunjukkan kuatnya fundamental pebisnis UMKM, dibanding perusahaan besar.  Kuatnya fundamental pebisnis UMKM sendiri juga di dukung dengan karakter yang menarik dari pebisnis UMKM tersebut. Setidaknya ada 3 hal dari fundamental pebisnis UMKM yang pada akhirnya menjadi kunci kesuksesan UMKM dalam menghadapi krisi moneter.

  1. Pertama Local Content artinya bahwa UMKM adalah perusahaan yang memproduksi barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Sehingga keberadaan produk mereka jelas di butuhkan.
  2. Kedua Sumber dayanya yang berasal dari lokal juga seperti SDM, modal, peralatan  hingga bahan baku. Pada akhirnya tidak terpengaruh pada saat terjadi krisis moneter global.
  3. Ketiga ini yang penting, pebisnis UMKM biasanya menggunakan dananya berasal dari dana pribadi atau kumpulan dari beberapa orang. Berbeda dengan pebisnis besar yang memanfaatkan dana dari sektor perbankan sehingga ketika sektor perbankan ada masalah secara langsung berpengaruh kepada bisnis perusahaannya.

Beberapa kelebihan yang di miliki UMKM itulah yang pada akhirnya membuat pemerintah merasa perlu  untuk memberikan dukungan kepada pebisnis UMKM untuk bisa lebih besar mendapat porsi kredit dari sektor perbankan.  Hingga kini terbukti beberapa bank sudah mulai memberikan kontribusi  kredit  yang cukup besar kepada sektor bisnis UMKM. Seperti misalnya tiga bank berikut yang meningkatkan penyaluran kreditnya  untuk sektor pebisnis UMKM : Direktur Bisnis UMKM & Jaringan BNI menyatakan bahwa hingga kuartal I 2019 persentase kredit UMKM sudah mencapai 19,51% naik sekitar 19% dibanding tahun 2018.  Begitu pula dengan  Bank Bukopin, hingga memasuki  kuartal I 2019 telah terjadi peningkatan kredit sebesar 5% secara yoy. Kondisi ini merupakan persentase kredit UMKM dan consumer terbesar dari total kredit perseroan yang saat ini sudah mencapai 65% lebih. Sedangkan untuk  bank swasta nasional lainnya adalah : PT. Bank OCBC NISP,Tbk. Berdasarkan data yang di keluarkan oleh perusahaan tercatat bahwa target kredit untuk pebisnis UMKM di tahun 2019 ini mengalami peningkatan sekitar 10-15%.

Baca juga : Penerapan CRM pada Perusahaan Multi-Finance dan Perbankan

BISNIS YANG BERORIENTASI KONSUMEN MENJADI TARGET SEKTOR PERBANKAN DALAM PENYALURAN KREDIT

 

Customer oriented pada akhirnya, itulah yang akan menjadi prioritas dari sektor perbankan dalam penyaluran kredit perbankan. Sekalipun sektor bisnisnya cukup potensial dimana ada beberapa sektor bisnis yang akan menjadi target utama sektor perbankan dalam penyaluran kreditnya dari mulai UMKM, industri makanan dan minuman serta industri ritel nasional. Namun tetap saja bukan tanpa kendala yang bisa menjadi penyebab melambatnya proses penyaluran kredit kepada pelaku bisnis tersebut.

Setidaknya ada beberapa kendala yang mesti di perhatikan jika sektor perbankan akan fokus  ke beberapa sektor bisnis seperti yang telah di  jelaskan diatas. Pertama ke depan transformasi digital akan menjadi sesuatu yang tidak mungkin bisa di cegah. Kedua kenyataan bahwa ke depan teknologi digital sudah harus menjadi salah satu tulang belakang bisnis perbankan di masa kini dan mendatang. Sehingga dengan kondisi itu membuat pebisnis UMKM atau sektor bisnis lain yang menjadi target utama sektor perbankan harus mulai mengaplikasikan teknologi digital dalam operasional bisnisnya.

Sumber : Bareksa

“ Tepat sekali jika saat ini pemerintah memberikan porsi yang besar kepada sektor perbankan agar mampu memberikan kontribusi yang besar untuk industri UMKM, industri makanan dan minuman serta ritel. Karena model bisnis tersebut mampu menjaga konsistensi customer agar produk yang mereka pasarkan tetap disukai,”

Handri Kosada, CEO Barantum.com

Apa yang diutarakan Handri sejalan dengan concern pemerintah untuk memaksimalkan potensi teknologi digital bagi perkembangan usaha seperti UMKM, usaha makanan dan minuman serta ritel. Karena menurut Handri, fokus yang saat ini sedang di jalankan perusahaannya yaitu membantu pebisnis dengan aplikasi CRM (customer relationship management) memang di jalankan dengan basic informasi dari customer. Sehingga jika saat ini sektor perbankan mengarahkan kreditnya dengan masuk ke industri yang customer oriented adalah tepat jika aplikasi teknologi digital ada di dalamnya.

Sumber : Kominfo / Bareksa

Sekadar ilustrasi, Handri menjelaskan kenapa CRM Barantum tepat untuk mendukung program pemerintah yang mendorong pebisnis UMKM memaksimalkan potensi perkembangan teknologi digital. Pertama CRM adalah sebuah sistem digital yang sudah terintegrasi, sehingga pemanfaatan sistem ini memiliki banyak keuntungan di samping tentunya bisa memaksimalkan kinerja team sales dalam meningkatkan omzet penjualan. Kedua CRM berbasis customer, sehingga beragamnya karakter yang ada pada sisi customer bisa menjadi sumber utama bagi pebisnis dalam usahanya mendekatkan diri dengan customer serta menciptakan produk-produk yang customer oriented.

Baca juga : Digitalisasi Industri Jasa Keuangan Untuk Memenuhi Kebutuhan Pelanggan

 

SEKTOR PERBANKAN MENGUNDANG INDUSTRI BERBASIS TEKNOLOGI DIGITAL UNTUK BERKOLABORASI

 

Pentingnya implementasi teknologi digital memang dirasakan sekali menjadi satu kebutuhan yang penting bagi sektor perbankan nasional. Hal itu sejalan dengan pandang positif dari beberapa pelaku sektor perbankan di Indonesia.  Kartika Wirjoatmodjo, Ketua Perbanas menyambut baik dan memberikan pandangannya agar industri perbankan nasional mulai membuka diri untuk melakukan kolaborasi dengan para stakeholder seperti fintech. Karena ke depan dengan semakin berkembangnya teknologi informasi yang berbasis digital membuat kebutuhan akan hal itu tidak bisa di hindari.

Sumber : CNBC Indonesia

Menyikapi pernyataan yang dilontarkan oleh Kartika Wirjoatmodjo justru kondisi itu sudah sejak lama di lakukan oleh Bank BCA. Bahkan Presiden Direkturnya sendiri  Jahja Setiaatmadja, Presiden Directur PT. Bank Central Asia,Tbk melihat kolaborasi bisnis ini menjadi suatu hal yang serius. Itulah kenapa, BCA berani di  tahun 2019 mengeluarkan anggaran sebesar Rp5,2 triliun untuk  melakukan transpormasi teknologi khususnya untuk sektor Informasi  Teknologi dan Digital.

Memang  hingga saat ini BCA adalah salah satu perbankan nasional  yang  begitu concern terhadap perubahan ke arah digital teknologi. Sehingga tidak jarang manajemen dari Bank yang beberapa kali mendapatkan prestasi ini berani membuka diri untuk melakukan kerja sama justru dengan startup teknologi digital yang saat ini cukup banyak berkembang di tanah air. Ada satu persyaratan yang mungkin penting untuk menjadi perhatian bagi para startup local yang tertarik untuk melakukan kolaborasi dengan BCA yaitu bahwa startup tersebut memiliki concern dalam hal keunggulan di sisi pemasaran serta pengumpulan data customer secara efektif.

Baca juga : Sistem CRM Meningkatkan Kinerja Perusahaan Pembiayaan

In this article

Join the Conversation

three × two =